Minggu, 01 Oktober 2017

CORETAN #1


HUJAN DI PERTENGAHAN BULAN NOVEMBER
Karya: Annida Safarulaili
Hujan di pertengahan bulan November, membuatku mengingat semua kenangan. Kenangan yang tak bisa aku lupakan sampai saat ini, padahal aku selalu mencoba untuk melupakan kenangan itu. Tapi ternyata aku tak bisa. Ya Tuhan, semua kenangan itu benar-benar menyakitkan.
Semua berawal pada saat hujan di pertengahan bulan November, aku lupa membawa payung pada saat aku akan pulang dari toko buku terbesar di kota ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, kemudian dia datang memberiku sebuah payung .
“Ini ada payung buatmu.” Ujarnya
“Terima kasih. Tapi bagaimana denganmu?” Tanyaku heran
“Tidak apa-apa, aku masih punya jas hujan.” Katanya sambil memberikan payung itu
“Terima kasih banyak.” Ujarku
Dia hanya tersenyum padaku, senyum yang sangat menyenangkan. Dia berlalu pergi meninggalkan aku yang sendirian. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka dan memakai payung yang diberikan oleh dia ke halte terdekat yang ada di daerah itu.
Dirumah, aku masih saja membayangkan wajah yang menolongku tadi, wajah yang ramah dan senyumnya yang menyenangkan, aku tak bisa melihat matanya karena disana sedikit gelap hanya diterangi lampu yang redup. Suaranya lembut tapi tegas, membuatku tak percaya. “Ya Tuhan kenapa aku masih saja mengingatnya padahal dia bukanlah siapa-siapa, dia hanya sekedar menolongku saja.” Ujarku dalam hati.

©©©

Hujan masih saja berjatuhan membasahi seluruh kota ini, hujan diluar sangat deras dan berangin. Aku duduk di kafe favorit kami (aku dan dia) dan mengingat satu demi satu kenangan bersama dia. Terkadang saat mengingat kenangan itu membuatku ingin menangis, tapi aku selalu berusaha untuk menahannya agar tidak keluar, aku sudah berjanji tidak akan menangis demi dia. Dia yang melukai hati ini, hati yang mempercayainya.

©©©

Seperti biasa, aku pergi ke toko buku terbesar di kota ini. Di toko ini aku sering melepaskan semua masalah yang aku hadapi setiap hari. Semua orang yang bekerja disini sudah mengenaliku, aku tak heran jika mereka selalu menyapaku dan mengobrol denganku. Hari ini aku juga tak lupa membawa payung yang diberikan olehnya untuk aku kembalikan. Kemarin aku bertemu dengannya di depan toko buku ini, mungkin saja dia ada disini.
Aku tak sengaja melihat dia berjalan di depan toko melewatiku. Aku masih ingat jelas, bagaimana dia berjalan, bagaimana wajahnya, semua itu aku masih ingat di kepalaku.
“Maaf. Kamu masih ingat denganku?” Tanyaku sedikit berlari karena dia berjalan dengan cepat
“Oh  kamu, iya aku masih ingat. Ada apa?” Dia berhenti
“Aku hanya ingin mengembalikan payung yang kamu berikan.” Kataku sambil mengulurkan payung
“Taruh saja di tempat payung toko buku ini.” Katanya sambil tersenyum. Aku heran kenapa aku harus menaruhnya di tempat payung toko buku ini. Dia mengetahui kalau aku masih heran dengan perkataannya.
“Payung ini milik toko buku ini.  Lihat saja di gagang payungnya pasti tertulis nama toko buku ini.” Ujarnya sambil tersenyum. Aku langsung melihat gagang payung itu, ternyata benar ada nama toko buku ini.
“Terima kasih sudah memberitahuku dan terima kasih pula sudah menolongku kemarin.” Ujarku
“Jangan sungkan, sesama manusia harus tolong menolong kan?”  Dia tersenyum kepadaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan dia berlalu pergi. Aku masih saja berdiri di tempat ku sekarang, aku masih tak percaya dia selalu tersenyum seperti itu, dan aku baru tahu kalau matanya seperti ada cahaya yang menenangkan. “Ah! Apa yang kupikirkan. Sudahlah lupakan semua itu.” Ujarku dalam hati. Aku meletakan payung itu, kemudian aku berlalu pergi.
Tak seperti biasa sikapku hari ini, biasanya aku selalu berdiam diri memandang keluar jendela di tempat duduk yang ada di pojok ruangan dari toko buku terbesar di kota ini. Tapi sekarang aku tidak melakukannya, aku tak tahu apa alasannya. Aku akan menceritakan semua kejadian ini dengan sahabatku.
“Vinda, aku tak tahu apa yang kurasakan. Semua ini sangat baru buatku?” Kataku langsung masuk ke kamar Vinda. Kami menyewa kamar kost yang bersebelahan.
“Ya ampun Tania! Kau mengagetkanku saja. Apa yang kamu maksud? Aku tak mengerti.” Ujarnya heran.
“Kemarin malam aku bertemu dia, dia menolongku dengan memberikan payung untukku. Dia sangat baik, wajahnya yang ramah, senyumnya yang menyenangkan, matanya yang bercahaya, semua itu membuatku tak mengerti.” Kataku sambil mengingat kembali semua kejadian itu.
“Dia! Dia siapa?” Vinda mulai bingung, dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
“Aku tidak tahu dia siapa. Yang aku tahu, aku merasakan sesuatu yang berbeda jika aku mengobrol dengannya.” Kataku
“Ya ampun Tania! Kau ini kenapa? Sikapmu berbeda sekali dari hari biasanya. Tania, kalau kau penasaran siapa dia, kenapa kau tidak berkenalan saja dengannya?” Vinda sudah mulai geram dengan sikapku yang berubah seratus delapan puluh derajat dari hari biasanya.
“Benar juga kamu Vin. Kenapa aku tidak berpikir ke situ ya.” Kataku tersenyum. Vinda geleng-geleng kepala karena tidak percaya.
Aku tak tahu kenapa aku bisa jadi seperti ini, aku sendiri juga heran. Sampai-sampai aku lupa berkenalan dengan dia. Besok aku akan berkenalan dengan dia, mungkin dia sering ke toko buku yang biasa aku datangi. Bisa jadi dia disana, seperti hari ini aku bertemu dengan dia di depan toko buku ini. Aku akan coba. Aku sudah menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada Vinda. Kemudian aku berlalu pergi meninggalkan Vinda.

©©©

Sudah setengah jam aku di kafe ini, tapi hujan masih saja belum reda. Aku tak tahu apa yang membuatku betah berlama-lama di kafe ini, atau aku hanya ingin mengingat kenangan itu. Iya, kenangan yang sangat menyakitkan tapi tak bisa di lupakan. Dulunya aku tidak tahu tentang kafe ini tapi karena aku sering di ajak dia kesini jadinya aku menyukai kafe ini. Dia juga menyukai kafe ini, katanya kafe ini sangat istimewa, dan mempunyai pemandangan yang indah. Ah, itu semua membuatku kembali mengenang kenangan pada saat dia membawa aku ke kafe ini untuk pertama kalinya.

©©©

Ternyata benar dia selalu lewat di depan toko buku ini, ketika aku menunggunya di depan toko buku ini untuk mengajaknya berkenalan, dia lewat dan langsung saja aku menyapanya.
“Hai, masih ingat denganku?” Tanyaku dengan hati-hati
“Masih. Ada apa ya?” Jawabnya sambil tersenyum
“Aku hanya ingin berkenalan denganmu saja. Namaku Tania, salam kenal.” Kataku sedikit agak ragu
“Namaku Andhika, panggil saja Dika. Senang bekenalan denganmu Tania.” Ujarnya dengan senyumnya yang menyenangkan. “Oh iya Tania, mau tidak kau menemani aku pergi hari ini?” Tanya dia dengan wajah yang sumringah
“Kemana?” Ujarku heran
“Ayo ikut saja.” Dia menarik tanganku dan membawaku langsung entah kemana. Aku pasrah saja kerena genggamannya kuat sekali sehingga terasa sakit bagiku. Dia membawa mobil sendiri dan langsung menyuruhku masuk. Di perjalanan kami hanya diam tanpa ada kata-kata yang terucap. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap seperti ini, atau dia hanya tak ingin bicara pada saat ini.
Kami memasuki daerah yang tak aku tahu, pemandangannya sangat indah di sini. Dia hanya tersenyum padaku.
“Nah sekarang sudah sampai.” Katanya sambil tersenyum bahagia. Dia membawa ku ke sebuah kafe. Pertama kali melihat kafe itu, aku sangat terkagum-kagum pada tempat itu. Interior dan eksteriornya sangat mengagumkan, berbeda dengan kafe-kafe yang ada di kota. Pemandangannya juga sangat indah.
“Indah sekali!” Kataku kagum
“Pasti. Makanya aku suka dengan kafe ini, belum ada orang yang aku ajak kesini selain dirimu Tania.” Ujarnya antusias.
Dia menjelaskan seluk-beluk kafe ini, dia tahu semuanya tentang kafe ini, dari siapa yang membangunnya, siapa yang mendesain interior dan eksteriornya. Dia benar-benar sangat bersemangat menceritakannya, berbeda pada saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia tidak sesemangat ini, biasa-biasa saja.
“Ternyata kau tahu semua tentang kafe ini.” Ujarku. Dia hanya tersenyum, senyum yang sangat meyenangkan.
Sejak saat itulah kami selalu pergi bersama, aku tidak lupa memberitahukan tempat favoritku kepadanya, tapi dia hanya bersikap biasa-biasa saja. Dia hanya tertarik dengan kafenya itu, aku sudah mulai menyukai kafe itu, benar apa kata dia bahwa kafe itu istemewa dan indah.

©©©

Hujan di pertengahan bulan November, mempertemukan aku dan dia. Dia yang telah mencuri hati ini untuk menyukainya, saat dia mengajakku bersamanya pertama kali. Yang aku rasakan saat itu sangatlah menyenangkan seperti senyumannya. Iya senyumannya, sampai saat ini aku tak bisa melupakan senyuman itu. Sahabatku Vinda, dia sudah mengetahui semuanya. Aku selalu menceritakan tentang dia kepada Vinda.
Aku sudah berada di kafe ini selama satu setengah jam, dan kenangan itu masih saja aku ingat. Setiap detik aku selalu mengingatnya  tak ada yang terlewat, semua masih jelas di otaku. Hujan masih deras dan berangin, kenapa hujan belum berhenti, itu akan membuatku selalu mengingatnya.  Ya Tuhan! Aku tidak bisa melupakan kenangan itu jika terus hujan seperti saat ini.

©©©

Tempat yang sama, bulan yang sama, dan musim hujan yang sama dia mulai menyakitiku. Menyakiti hati yang menyukainya selama 2 tahun. Dia menyakitiku di pertengahan bulan November, tepat pada hari ini, hari dimana aku mengingat semua kenangan bersamanya selama 2 tahun di kafe ini. Aku mulai meneteskan air mata karena itu menyakitkan.
Aku masih ingat jelas di kepalaku, bahwa dia pernah berkata jika tidak ada perempuan lain yang di ajaknya kesini selain diriku. Dan dia pernah berkata jika tidak ada lagi perempuan yang ada dihatinya selain diriku. Aku masih ingat jelas, tapi saat dia mengatakan hal itu tidak ada hubungan apapun hanya sebatas teman saja. Aku tidak tahu mengapa.

©©©

“Tania, aku pernah bilang padamu bahwa tidak ada perempuan lain yang aku ajak kemari selain dirimu.” Katanya dengan gugup
“iya. Terus ada apa?” Tanyaku penasaran
“Aku hanya ingin bilang jika perkataanku itu benar. Dan satu lagi, kalau kamu adalah perempuan yang ada di hati aku satu-satunya tidak ada yang lain.” Jelasnya dengan mantap. Aku tidak percaya dia mengatakan itu.
“Kamu serius mengatakan itu?” Aku makin tak percaya
“Iya aku serius.” Katanya. Ya Tuhan, dia mengatakan itu. Dia mengatakan bahwa tidak ada lagi perempuan di hatinya tapi mengapa dia tidak menjadikan aku sebagai kekasihnya. Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan itu tapi hanya sebatas teman saja. Ah, ah mungkin belum tepat saja waktunya untuk dia mengajakku ke jenjang yang lebih tingggi dari teman.
Selang satu minggu dia mengatakan itu, dia tidak bisa di hubungi. Aku bingung harus bagaimana, aku sudah mencarinya di kafe favoritnya tapi di tidak ada. Aku sudah menunggunya di depan toko buku ini tapi dia tidak pernah lewat. Aku sudah tanya dengan teman-temannya tapi mereka tidak tahu kemana perginya Dika. Aku sudah mulai putus asa untuk mencarinya.
Aku melihat sepucuk surat di tempat duduk di toko buku ini. Ternyata dia masih ingat dimana aku biasa duduk. Secepatnya aku membuka dan membaca surat itu.
Dear Tania
Maafkan aku jika aku menghilang begitu saja. Sekali lagi maaf, tapi jika kau menemukan surat ini berarti aku sudah pergi dari kota ini dan aku bersyukur jika kau mau membaca surat dariku ini. Aku menulis surat ini untukmu untuk mengabari bahwa aku akan menikah dengan orang yang telah dijodohkan denganku. Aku sudah coba untuk menolaknya tapi kedua orang tuaku tetap memaksaku untuk menikah dengannya.
Sebenarnya aku tidak mau kau tahu soal ini Tania. Rencana awal aku akan pergi secara diam-diam dan tak akan memberitahukan hal ini, tapi aku tidak tega melihatmu cemas memikirkanku dan mencoba mencariku. Kemudian aku berpikir bahwa aku akan menuliskan surat untukmu, aku tak berani mengatakannya langsung padamu soalnya aku tidak mau kau menangis. Jika kau menangis nanti cantikmu akan luntur, itu sih menurut pandanganku saja hehehe….
Aku pernah bilang bahwa kamu perempuan yang ada dalam hatiku satu-satunya. Itu benar Tania, aku sungguh-sungguh mengucapkannya. Percayalah Tania, kau akan tetap ada dihatiku walau aku sudah menikah dengan perempuan lain. Tania aku hanya ingin bilang padamu walau ini sudah terlambat untuk mengatakannya bahwa AKU CINTA PADAMU TANIA.
Maafkan aku Tania jika terlambat mengatakannya.
 Tania, hanya satu permintaanku yaitu  kau harus mencari penggantiku di hatimu. Carilah yang lebih baik dari aku Tania. Lupakanlah aku Tania, lupakan aku Tania. Sekali lagi maafkan aku Tania, Maafkan aku.
Love You
Andhika

Aku menangis membaca surat itu, ada rasa sakit yang menusuk di hatiku. Dia menuliskan bahwa dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Aku harus melupakannya dan mencari penggantinya, apa itu mungkin untuk aku lakukan? Apa aku harus melupakan semua kenangan yang dia tinggalkan bersamaku selama 2 tahun? Apa itu harus?. Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Sakit, yang sekarang aku rasakan. Sakit yang sangat dalam, sampai-sampai sahabatku bingung. Aku belum menceritakan kejadian tadi siang pada Vinda, aku bingung apakah aku harus mengatakannya pada Vinda atau tidak.
“Tania, ada apa denganmu? Sepertinya kau ada masalah? Ceritakanlah.” Tanya Vinda dengan wajah ingin Tahu
“Ah, tidak ada apa-apa kok Vinda. Aku cuma tidak enak badan aja.” Jawabku lirih
“Kalau begitu istirahatlah biar besok lebih segar.”
“Iya baiklah.” Kataku. Aku pergi meninggalkan Vinda yang sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. Akhirnya aku tidak berani memberitahukan masalah ini dengan Vinda. Biarlah, hanya aku dan dia yang tahu masalah ini. Cepat atau lambat aku akan melupakannya dan tak akan menangis lagi untuknya. Aku berjanji.

©©©

Sudah 3 tahun sejak aku menerima surat itu dan sudah 3 tahun pula aku tidak berkomunikasi dengannya. Mungkin dia sudah bahagia di suatu tempat dengan istrinya dan juga anak-anaknya. Pasti dia sudah melupakanku dan semua kenangan bersamaku.Aku masih menyimpan surat itu bersama benda-benda yang dia berikan padaku selama 2 tahun itu. 
Sudah dua 2 jam aku di kafe ini dan mengingat semua kenangan yang menyakitkan itu. Andhika, aku belum bisa melupakanmu dan belum mendapat penggantimu di hatiku. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu Dika. Ah, semua ini membuatku ingin menangis.
Dika, aku selalu mencintaimu walau sulit rasanya melupakanmu. Aku masih saja datang ke kafe favorit kita. Aku masih saja mengingat kenangan itu. Aku masih saja mengingat kau, senyummu, matamu, gaya bicaramu itu semua masih aku ingat. Selama 3 tahun aku seperti ini, andai kamu tahu Dika.
Hujan di pertengahan bulan November selalu mengingatkanku denganmu, tapi aku tak bisa berlama-lama disini. Ada tugas yang harus aku lakukan. Mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu denganmu tapi berbeda. Iya, berbeda karena kau sudah berumah tangga dan aku disini tak bisa mencari penggantimu. Aku harap pada musim hujan di pertengahan bulan November aku bisa bertemu.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar