Karya: Annida Safarulaili
Hujan
di pertengahan bulan November, membuatku mengingat semua kenangan. Kenangan
yang tak bisa aku lupakan sampai saat ini, padahal aku selalu mencoba untuk
melupakan kenangan itu. Tapi ternyata aku tak bisa. Ya Tuhan, semua kenangan
itu benar-benar menyakitkan.
Semua
berawal pada saat hujan di pertengahan bulan November, aku lupa membawa payung
pada saat aku akan pulang dari toko buku terbesar di kota ini. Padahal jam
sudah menunjukkan pukul sembilan malam, kemudian dia datang memberiku sebuah
payung .
“Terima
kasih. Tapi bagaimana denganmu?” Tanyaku heran
“Tidak
apa-apa, aku masih punya jas hujan.” Katanya sambil memberikan payung itu
“Terima
kasih banyak.” Ujarku
Dia
hanya tersenyum padaku, senyum yang sangat menyenangkan. Dia berlalu pergi meninggalkan
aku yang sendirian. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka dan memakai
payung yang diberikan oleh dia ke halte terdekat yang ada di daerah itu.
Dirumah,
aku masih saja membayangkan wajah yang menolongku tadi, wajah yang ramah dan
senyumnya yang menyenangkan, aku tak bisa melihat matanya karena disana sedikit
gelap hanya diterangi lampu yang redup. Suaranya lembut tapi tegas, membuatku
tak percaya. “Ya Tuhan kenapa aku masih saja mengingatnya padahal dia bukanlah
siapa-siapa, dia hanya sekedar menolongku saja.” Ujarku dalam hati.
©©©
Hujan
masih saja berjatuhan membasahi seluruh kota ini, hujan diluar sangat deras dan
berangin. Aku duduk di kafe favorit kami (aku dan dia) dan mengingat satu demi
satu kenangan bersama dia. Terkadang saat mengingat kenangan itu membuatku
ingin menangis, tapi aku selalu berusaha untuk menahannya agar tidak keluar,
aku sudah berjanji tidak akan menangis demi dia. Dia yang melukai hati ini,
hati yang mempercayainya.
©©©
Seperti
biasa, aku pergi ke toko buku terbesar di kota ini. Di toko ini aku sering
melepaskan semua masalah yang aku hadapi setiap hari. Semua orang yang bekerja
disini sudah mengenaliku, aku tak heran jika mereka selalu menyapaku dan
mengobrol denganku. Hari ini aku juga tak lupa membawa payung yang diberikan
olehnya untuk aku kembalikan. Kemarin aku bertemu dengannya di depan toko buku
ini, mungkin saja dia ada disini.
Aku
tak sengaja melihat dia berjalan di depan toko melewatiku. Aku masih ingat
jelas, bagaimana dia berjalan, bagaimana wajahnya, semua itu aku masih ingat di
kepalaku.
“Maaf.
Kamu masih ingat denganku?” Tanyaku sedikit berlari karena dia berjalan dengan
cepat
“Oh kamu, iya aku masih ingat. Ada apa?” Dia
berhenti
“Aku
hanya ingin mengembalikan payung yang kamu berikan.” Kataku sambil mengulurkan
payung
“Taruh
saja di tempat payung toko buku ini.” Katanya sambil tersenyum. Aku heran
kenapa aku harus menaruhnya di tempat payung toko buku ini. Dia mengetahui
kalau aku masih heran dengan perkataannya.
“Payung
ini milik toko buku ini. Lihat saja di
gagang payungnya pasti tertulis nama toko buku ini.” Ujarnya sambil tersenyum.
Aku langsung melihat gagang payung itu, ternyata benar ada nama toko buku ini.
“Terima
kasih sudah memberitahuku dan terima kasih pula sudah menolongku kemarin.”
Ujarku
“Jangan
sungkan, sesama manusia harus tolong menolong kan?” Dia tersenyum kepadaku. Aku hanya membalasnya
dengan senyuman dan dia berlalu pergi. Aku masih saja berdiri di tempat ku
sekarang, aku masih tak percaya dia selalu tersenyum seperti itu, dan aku baru
tahu kalau matanya seperti ada cahaya yang menenangkan. “Ah! Apa yang
kupikirkan. Sudahlah lupakan semua itu.” Ujarku dalam hati. Aku meletakan
payung itu, kemudian aku berlalu pergi.
Tak
seperti biasa sikapku hari ini, biasanya aku selalu berdiam diri memandang
keluar jendela di tempat duduk yang ada di pojok ruangan dari toko buku
terbesar di kota ini. Tapi sekarang aku tidak melakukannya, aku tak tahu apa
alasannya. Aku akan menceritakan semua kejadian ini dengan sahabatku.
“Vinda,
aku tak tahu apa yang kurasakan. Semua ini sangat baru buatku?” Kataku langsung
masuk ke kamar Vinda. Kami menyewa kamar kost yang bersebelahan.
“Ya
ampun Tania! Kau mengagetkanku saja. Apa yang kamu maksud? Aku tak mengerti.”
Ujarnya heran.
“Kemarin
malam aku bertemu dia, dia menolongku dengan memberikan payung untukku. Dia
sangat baik, wajahnya yang ramah, senyumnya yang menyenangkan, matanya yang
bercahaya, semua itu membuatku tak mengerti.” Kataku sambil mengingat kembali
semua kejadian itu.
“Dia!
Dia siapa?” Vinda mulai bingung, dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh
sahabatnya itu.
“Aku
tidak tahu dia siapa. Yang aku tahu, aku merasakan sesuatu yang berbeda jika
aku mengobrol dengannya.” Kataku
“Ya
ampun Tania! Kau ini kenapa? Sikapmu berbeda sekali dari hari biasanya. Tania,
kalau kau penasaran siapa dia, kenapa kau tidak berkenalan saja dengannya?”
Vinda sudah mulai geram dengan sikapku yang berubah seratus delapan puluh
derajat dari hari biasanya.
“Benar
juga kamu Vin. Kenapa aku tidak berpikir ke situ ya.” Kataku tersenyum. Vinda
geleng-geleng kepala karena tidak percaya.
Aku
tak tahu kenapa aku bisa jadi seperti ini, aku sendiri juga heran.
Sampai-sampai aku lupa berkenalan dengan dia. Besok aku akan berkenalan dengan
dia, mungkin dia sering ke toko buku yang biasa aku datangi. Bisa jadi dia
disana, seperti hari ini aku bertemu dengan dia di depan toko buku ini. Aku
akan coba. Aku sudah menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada Vinda.
Kemudian aku berlalu pergi meninggalkan Vinda.
©©©
Sudah
setengah jam aku di kafe ini, tapi hujan masih saja belum reda. Aku tak tahu
apa yang membuatku betah berlama-lama di kafe ini, atau aku hanya ingin
mengingat kenangan itu. Iya, kenangan yang sangat menyakitkan tapi tak bisa di
lupakan. Dulunya aku tidak tahu tentang kafe ini tapi karena aku sering di ajak
dia kesini jadinya aku menyukai kafe ini. Dia juga menyukai kafe ini, katanya
kafe ini sangat istimewa, dan mempunyai pemandangan yang indah. Ah, itu semua
membuatku kembali mengenang kenangan pada saat dia membawa aku ke kafe ini untuk
pertama kalinya.
©©©
Ternyata
benar dia selalu lewat di depan toko buku ini, ketika aku menunggunya di depan
toko buku ini untuk mengajaknya berkenalan, dia lewat dan langsung saja aku
menyapanya.
“Hai,
masih ingat denganku?” Tanyaku dengan hati-hati
“Masih.
Ada apa ya?” Jawabnya sambil tersenyum
“Aku
hanya ingin berkenalan denganmu saja. Namaku Tania, salam kenal.” Kataku
sedikit agak ragu
“Namaku
Andhika, panggil saja Dika. Senang bekenalan denganmu Tania.” Ujarnya dengan
senyumnya yang menyenangkan. “Oh iya Tania, mau tidak kau menemani aku pergi
hari ini?” Tanya dia dengan wajah yang sumringah
“Kemana?”
Ujarku heran
“Ayo
ikut saja.” Dia menarik tanganku dan membawaku langsung entah kemana. Aku
pasrah saja kerena genggamannya kuat sekali sehingga terasa sakit bagiku. Dia
membawa mobil sendiri dan langsung menyuruhku masuk. Di perjalanan kami hanya
diam tanpa ada kata-kata yang terucap. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap
seperti ini, atau dia hanya tak ingin bicara pada saat ini.
Kami
memasuki daerah yang tak aku tahu, pemandangannya sangat indah di sini. Dia
hanya tersenyum padaku.
“Nah
sekarang sudah sampai.” Katanya sambil tersenyum bahagia. Dia membawa ku ke
sebuah kafe. Pertama kali melihat kafe itu, aku sangat terkagum-kagum pada
tempat itu. Interior dan eksteriornya sangat mengagumkan, berbeda dengan
kafe-kafe yang ada di kota. Pemandangannya juga sangat indah.
“Indah
sekali!” Kataku kagum
“Pasti.
Makanya aku suka dengan kafe ini, belum ada orang yang aku ajak kesini selain
dirimu Tania.” Ujarnya antusias.
Dia
menjelaskan seluk-beluk kafe ini, dia tahu semuanya tentang kafe ini, dari
siapa yang membangunnya, siapa yang mendesain interior dan eksteriornya. Dia
benar-benar sangat bersemangat menceritakannya, berbeda pada saat aku pertama
kali bertemu dengannya, dia tidak sesemangat ini, biasa-biasa saja.
“Ternyata
kau tahu semua tentang kafe ini.” Ujarku. Dia hanya tersenyum, senyum yang
sangat meyenangkan.
Sejak
saat itulah kami selalu pergi bersama, aku tidak lupa memberitahukan tempat
favoritku kepadanya, tapi dia hanya bersikap biasa-biasa saja. Dia hanya
tertarik dengan kafenya itu, aku sudah mulai menyukai kafe itu, benar apa kata
dia bahwa kafe itu istemewa dan indah.
©©©
Hujan
di pertengahan bulan November, mempertemukan aku dan dia. Dia yang telah
mencuri hati ini untuk menyukainya, saat dia mengajakku bersamanya pertama
kali. Yang aku rasakan saat itu sangatlah menyenangkan seperti senyumannya. Iya
senyumannya, sampai saat ini aku tak bisa melupakan senyuman itu. Sahabatku
Vinda, dia sudah mengetahui semuanya. Aku selalu menceritakan tentang dia
kepada Vinda.
Aku
sudah berada di kafe ini selama satu setengah jam, dan kenangan itu masih saja
aku ingat. Setiap detik aku selalu mengingatnya
tak ada yang terlewat, semua masih jelas di otaku. Hujan masih deras dan
berangin, kenapa hujan belum berhenti, itu akan membuatku selalu
mengingatnya. Ya Tuhan! Aku tidak bisa
melupakan kenangan itu jika terus hujan seperti saat ini.
©©©
Tempat
yang sama, bulan yang sama, dan musim hujan yang sama dia mulai menyakitiku.
Menyakiti hati yang menyukainya selama 2 tahun. Dia menyakitiku di pertengahan
bulan November, tepat pada hari ini, hari dimana aku mengingat semua kenangan
bersamanya selama 2 tahun di kafe ini. Aku mulai meneteskan air mata karena itu
menyakitkan.
Aku
masih ingat jelas di kepalaku, bahwa dia pernah berkata jika tidak ada
perempuan lain yang di ajaknya kesini selain diriku. Dan dia pernah berkata
jika tidak ada lagi perempuan yang ada dihatinya selain diriku. Aku masih ingat
jelas, tapi saat dia mengatakan hal itu tidak ada hubungan apapun hanya sebatas
teman saja. Aku tidak tahu mengapa.
©©©
“Tania,
aku pernah bilang padamu bahwa tidak ada perempuan lain yang aku ajak kemari
selain dirimu.” Katanya dengan gugup
“iya.
Terus ada apa?” Tanyaku penasaran
“Aku
hanya ingin bilang jika perkataanku itu benar. Dan satu lagi, kalau kamu adalah
perempuan yang ada di hati aku satu-satunya tidak ada yang lain.” Jelasnya
dengan mantap. Aku tidak percaya dia mengatakan itu.
“Kamu
serius mengatakan itu?” Aku makin tak percaya
“Iya
aku serius.” Katanya. Ya Tuhan, dia mengatakan itu. Dia mengatakan bahwa tidak
ada lagi perempuan di hatinya tapi mengapa dia tidak menjadikan aku sebagai
kekasihnya. Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan itu tapi hanya sebatas teman
saja. Ah, ah mungkin belum tepat saja waktunya untuk dia mengajakku ke jenjang
yang lebih tingggi dari teman.
Selang
satu minggu dia mengatakan itu, dia tidak bisa di hubungi. Aku bingung harus
bagaimana, aku sudah mencarinya di kafe favoritnya tapi di tidak ada. Aku sudah
menunggunya di depan toko buku ini tapi dia tidak pernah lewat. Aku sudah tanya
dengan teman-temannya tapi mereka tidak tahu kemana perginya Dika. Aku sudah
mulai putus asa untuk mencarinya.
Aku
melihat sepucuk surat di tempat duduk di toko buku ini. Ternyata dia masih
ingat dimana aku biasa duduk. Secepatnya aku membuka dan membaca surat itu.
Dear Tania
Maafkan aku jika aku
menghilang begitu saja. Sekali lagi maaf, tapi jika kau menemukan surat ini
berarti aku sudah pergi dari kota ini dan aku bersyukur jika kau mau membaca
surat dariku ini. Aku menulis surat ini untukmu untuk mengabari bahwa aku akan
menikah dengan orang yang telah dijodohkan denganku. Aku sudah coba untuk
menolaknya tapi kedua orang tuaku tetap memaksaku untuk menikah dengannya.
Sebenarnya aku tidak mau
kau tahu soal ini Tania. Rencana awal aku akan pergi secara diam-diam dan tak
akan memberitahukan hal ini, tapi aku tidak tega melihatmu cemas memikirkanku
dan mencoba mencariku. Kemudian aku berpikir bahwa aku akan menuliskan surat
untukmu, aku tak berani mengatakannya langsung padamu soalnya aku tidak mau kau
menangis. Jika kau menangis nanti cantikmu akan luntur, itu sih menurut
pandanganku saja hehehe….
Aku pernah bilang bahwa
kamu perempuan yang ada dalam hatiku satu-satunya. Itu benar Tania, aku
sungguh-sungguh mengucapkannya. Percayalah Tania, kau akan tetap ada dihatiku
walau aku sudah menikah dengan perempuan lain. Tania aku hanya ingin bilang
padamu walau ini sudah terlambat untuk mengatakannya bahwa AKU CINTA PADAMU
TANIA.
Maafkan aku Tania jika
terlambat mengatakannya.
Tania, hanya satu permintaanku yaitu kau harus mencari penggantiku di hatimu.
Carilah yang lebih baik dari aku Tania. Lupakanlah aku Tania, lupakan aku
Tania. Sekali lagi maafkan aku Tania, Maafkan aku.
Love
You
Andhika
Aku
menangis membaca surat itu, ada rasa sakit yang menusuk di hatiku. Dia
menuliskan bahwa dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Aku harus
melupakannya dan mencari penggantinya, apa itu mungkin untuk aku lakukan? Apa
aku harus melupakan semua kenangan yang dia tinggalkan bersamaku selama 2
tahun? Apa itu harus?. Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Sakit,
yang sekarang aku rasakan. Sakit yang sangat dalam, sampai-sampai sahabatku
bingung. Aku belum menceritakan kejadian tadi siang pada Vinda, aku bingung
apakah aku harus mengatakannya pada Vinda atau tidak.
“Tania,
ada apa denganmu? Sepertinya kau ada masalah? Ceritakanlah.” Tanya Vinda dengan
wajah ingin Tahu
“Ah,
tidak ada apa-apa kok Vinda. Aku cuma tidak enak badan aja.” Jawabku lirih
“Kalau
begitu istirahatlah biar besok lebih segar.”
“Iya
baiklah.” Kataku. Aku pergi meninggalkan Vinda yang sedang sibuk dengan tugas
kuliahnya. Akhirnya aku tidak berani memberitahukan masalah ini dengan Vinda.
Biarlah, hanya aku dan dia yang tahu masalah ini. Cepat atau lambat aku akan
melupakannya dan tak akan menangis lagi untuknya. Aku berjanji.
©©©
Sudah
3 tahun sejak aku menerima surat itu dan sudah 3 tahun pula aku tidak
berkomunikasi dengannya. Mungkin dia sudah bahagia di suatu tempat dengan
istrinya dan juga anak-anaknya. Pasti dia sudah melupakanku dan semua kenangan
bersamaku.Aku masih menyimpan surat itu bersama benda-benda yang dia berikan
padaku selama 2 tahun itu.
Sudah
dua 2 jam aku di kafe ini dan mengingat semua kenangan yang menyakitkan itu.
Andhika, aku belum bisa melupakanmu dan belum mendapat penggantimu di hatiku.
Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu Dika. Ah, semua ini membuatku ingin
menangis.
Dika,
aku selalu mencintaimu walau sulit rasanya melupakanmu. Aku masih saja datang
ke kafe favorit kita. Aku masih saja mengingat kenangan itu. Aku masih saja
mengingat kau, senyummu, matamu, gaya bicaramu itu semua masih aku ingat.
Selama 3 tahun aku seperti ini, andai kamu tahu Dika.
Hujan
di pertengahan bulan November selalu mengingatkanku denganmu, tapi aku tak bisa
berlama-lama disini. Ada tugas yang harus aku lakukan. Mungkin suatu saat nanti
aku akan bertemu denganmu tapi berbeda. Iya, berbeda karena kau sudah berumah
tangga dan aku disini tak bisa mencari penggantimu. Aku harap pada musim hujan
di pertengahan bulan November aku bisa bertemu.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar