Rindu Tanpa
Jeda
Awan mulai berwarna kelabu ketika kusampai di
pelataran rumahnya yang begitu sejuk juga asri, sejak dulu ia memang suka
tanaman. Hingga halaman rumahpun penuh bunga berwarna warni. Kulihat dirinya
sedang duduk di beranda rumah, menatapku penuh tanda tanya.
"Assalamualaikum, Mas!" ucapku.
"Waalaikumsalam, Rhe," suara lembut itu menjawab.
Aku hanya terdiam, tak tahu mesti bicara apa, kegamangan menyelimuti diri.
Aku menatapnya menunggunya bicara lebih dulu.
"Kamu apa kabar?" tanyanya.
Ah ... mas bukan itu yang ingin aku dengar darimu, gerutu ku dalam hati.
"Baik" jawabku singkat.
"Ada apa kamu kesini?" tanyanya dengan nada seperti
malas-malasan.
Dia tak menatapku sama sekali, sebegitu bencikah kau mas padaku hingga
enggan melihatku.
"Apa belum puas Rhe ... kamu sakiti hatiku?" tanyanya lagi.
Aku hanya mampu menundukan wajahku menahan bening di mata.
"Jawab Rhe, jangan hanya diam," ucapnya lagi kali ini dengan nada
datar.
Kukeluarkan sesuatu dari tas ku dan ku berikan padanya.
"Undangan?" tanyanya kaget.
Aku pun mengangguk lemah, seolah langit runtuh ditegak kuberdiri.
"Maafkan aku mas," ucapku pelan.
"Rhe apa kamu yakin?" tanyanya lagi.
Aku tak menjawab apapun, hanya bulir kristal mengalir lembut di pipiku.
Kami terdiam, tak satupun kata terucap hanya airmata mambanjiri pipi kami.
"Rhe ... aku ikhlas," ucapnya terbata.
"Bagaimana mungkin kamu bisa ikhlas mas, sedangkan aku sendiri saja tak ikhlas?"
ucapku meledak-ledak.
"Lalu aku harus bagaimana, Rhe? orangtuamu tak pernah merestui
hubungan kita," jawabnya.
Aku menangis sejadi-jadinya.
"Rhe ... mungkin kita memang tidak berjodoh" ucapnya lagi datar.
"Bawa aku pergi mas, kita kawin lari!" ucapku tegas.
"Enggak Rhe ... aku bukan lelaki jahat seperti itu yang membiarkanmu
melakukan kesalahan," jawabnya tak kalah tegas.
"Lalu aku harus apa mas?" tanyaku.
"Pulanglah Rhe, turuti kemauan orangtuamu, itu baik untukmu,"
ucapnya masih dengan tegas meski aku tahu betul bahwa dia pun rapuh.
"kamu jahat mas! Jahat!" teriakku.
Dia hanya diam, entah apa yang dipikirkannya saat ini. "Kamu ga
benar-benar cinta aku mas," ucapku lagi.
"Pergilah Rhe!" bentaknya, lalu dia berdiri dan meninggalkanku
sendiri di teras rumahnya.
Aku hanya bisa menangis, perih terasa menjalari rongga-rongga hati.
"Pergilah Rhe ... jangan temui aku lagi," ucapnya lagi dari dalam
rumah tanpa membuka pintu.
****
Aku melangkah gontai dan tak tahu harus kemana.
"Aku pergi mas," ucapku pelan.
Seketika sebuah truk menabrak tubuh mungilku.
Sesaat sebelum mata ini tertutup, kumendengar suaranya berteriak. Kurasakan
ada tubuh memelukku erat, hingga akhirnya sesak semakin terasa, napas memberat.
Dan ... aku melayang.
Semarang, 11 Juni 2018
#penikmatmalam
#penikmatmalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar