Oleh: Penikmat
Malam
Ada rinai yang tersedu dibalik pahitnya secangkir kopi
yang uapnya menguar pilu. Tersebab resah yang kian hari semakin membuncah,
membuat diri kepayahan menepis segala gundah.
"Dik, masihkah ada namaku terselip dalam bingkai
hatimu?" gumamku pelan.
Suara angin bergemerisik iringi malam sunyi tanpa tarian gemintang. Menemani lara hatiku yang tengah menanti keputusanmu.
Terbayang kembali percakapan kita saat sore kemarin lalu.
"Maaf, Dian, aku masih gamang untuk mengambil keputusan," ujarmu kala itu.
"Tetapi mengapa, Dik?" tanyaku bingung "adakah wanita lain di hatimu selain namaku?" lanjutku.
Suara angin bergemerisik iringi malam sunyi tanpa tarian gemintang. Menemani lara hatiku yang tengah menanti keputusanmu.
Terbayang kembali percakapan kita saat sore kemarin lalu.
"Maaf, Dian, aku masih gamang untuk mengambil keputusan," ujarmu kala itu.
"Tetapi mengapa, Dik?" tanyaku bingung "adakah wanita lain di hatimu selain namaku?" lanjutku.
"Iya ... ada seseorang di hati ini yang masih
belum mampu aku lupakan, tolong beri aku waktu!" pintamu.
"Well ... but who is she?" ucapku.
"Namanya Ayu, dia masalaluku! Dia kembali hadir
dalam hidupku dua minggu lalu, meminta cintaku yang dulu pernah tercipta hanya
untuknya ... akh! Aku benar-benar bingung untuk bersikap, aku mencintai kamu,
Dian! Tetapi nama Ayu pun masih terselip di sudut hati ini," jawabmu
panjang lebar.
Ada sesak merambah mengisi rongga dada, serupa petir menyambar tiang-tiang hati ketika mendengar penjelasanmu. Setega itukah kau terhadap rasaku. Ketulusan yang kuberi tetapi keraguan yang kau suguhkan. Bulir bening tak mampu kutahan, merinai di sudut mata. Pedih!
Ada sesak merambah mengisi rongga dada, serupa petir menyambar tiang-tiang hati ketika mendengar penjelasanmu. Setega itukah kau terhadap rasaku. Ketulusan yang kuberi tetapi keraguan yang kau suguhkan. Bulir bening tak mampu kutahan, merinai di sudut mata. Pedih!
"Dian!" panggilmu ketika melihatku hanya
terdiam.
Aku menoleh bersama airmata yang belum mengering.
"Sudahlah, jangan menangis! Kau tahu betul aku paling lemah jika melihat wanita menangis," ucapmu.
Aku menoleh bersama airmata yang belum mengering.
"Sudahlah, jangan menangis! Kau tahu betul aku paling lemah jika melihat wanita menangis," ucapmu.
Aku hanya terdiam, lidah kelu tak mampu berkata
apapun.
"Beri aku waktu satu minggu, aku ingin istikharah dulu. Meminta yang terbaik kepada sang Khalik, agar tidak salah mengambil keputusan. Kau mau menunggu kan?" katamu lagi.
"Beri aku waktu satu minggu, aku ingin istikharah dulu. Meminta yang terbaik kepada sang Khalik, agar tidak salah mengambil keputusan. Kau mau menunggu kan?" katamu lagi.
Aku hanya mengangguk, lalu membiarkanmu pergi.
"Sampai jumpa seminggu lagi," ucapku lirih.
Dan kini ... kutapaki waktu tanpa sedikitpun kabar darimu, menanti sebuah kepastian.
Tahukah kau rasanya menunggu? Itu sangat melelahkan, menguras energi hingga tubuh terasa lemah. Mengapa harus seminggu, tidak bisakah kau percepat?
Aahh ... andai saja aku dapat memutar waktu, kan kubuat waktu secepat mungkin berlari menuju minggu depan. Tetapi angan hanyalah khayalan, senyatanya waktu malah terasa begitu lamban ketika berhadapan dengan kata menunggu. Semoga Tuhan memberiku kesabaran yang begitu banyak hingga mampu menunggu meski dengan segala kepayahan.
Kucecap lagi kopi yang sudah tak lagi panas, rasanya getir, apakah aku lupa memberi gula ketika menyeduhnya? Entahlah.
Dika, seandainya kau tahu betapa aku mengharap cintamu. Seandai kau tahu aku begitu cemburu mendengarmu menyebut namanya ... akh ... lagi-lagi aku berandai.
Tuhan, tolong hadirkan wajahku dalam mimpinya. Tulis namaku dalam hatinya.
"Sampai jumpa seminggu lagi," ucapku lirih.
Dan kini ... kutapaki waktu tanpa sedikitpun kabar darimu, menanti sebuah kepastian.
Tahukah kau rasanya menunggu? Itu sangat melelahkan, menguras energi hingga tubuh terasa lemah. Mengapa harus seminggu, tidak bisakah kau percepat?
Aahh ... andai saja aku dapat memutar waktu, kan kubuat waktu secepat mungkin berlari menuju minggu depan. Tetapi angan hanyalah khayalan, senyatanya waktu malah terasa begitu lamban ketika berhadapan dengan kata menunggu. Semoga Tuhan memberiku kesabaran yang begitu banyak hingga mampu menunggu meski dengan segala kepayahan.
Kucecap lagi kopi yang sudah tak lagi panas, rasanya getir, apakah aku lupa memberi gula ketika menyeduhnya? Entahlah.
Dika, seandainya kau tahu betapa aku mengharap cintamu. Seandai kau tahu aku begitu cemburu mendengarmu menyebut namanya ... akh ... lagi-lagi aku berandai.
Tuhan, tolong hadirkan wajahku dalam mimpinya. Tulis namaku dalam hatinya.
Dika, mimpikan aku dalam istikharahmu. Ukir namaku di
jiwamu. Aku menunggu, di sini! Di lubuk sanubari terdalam.
Kuputar MP3 , sebuah lagu terlantun indah temani malamku.
Kuputar MP3 , sebuah lagu terlantun indah temani malamku.
"Sesungguhnya aku, ingin memelukmu Mendekap penuh
harapan tuk mencintaimu, sepenuhnya aku ... akan terus menunggu, menanti sebuah
jawaban tuk memilikimu...."
Semarang, 11 Maret 2018
#penikmatmalam
#penikmatmalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar