Terima
Kasih Mahasiswa: Kita Tak Bisa Hanya ‘Kerja, Kerja, Kerja’, Tapi Juga Harus
‘Aksi, Aksi, Aksi’!
“Aku tak mengajarkan kekerasan, tapi kalau
kakiku diinjak aku wajib membalasnya” -Martin Luther King
“Jika
dunia tidak selaras denganmu, bangkit dan tantang dia!” Iqbal
Patut
mengucapkan terima kasih atas segala yang telah mahasiswa lakukan. Memprotes
Senayan yang dengan mudahnya melahirkan UU yang penuh perkara. Meminta
pemerintah untuk tak memperlakukan berbagai UU yang berpotensi membawa petaka.
Tak lama setelah protes terjadi, pemerintah dan DPR sepakat menunda 4 RUU yang
memang bermasalah itu. Hanya soal UU KPK, Presiden -hingga detik tulisan ini disusun-
tak ingin mencabutnya.
Terima
kasih mahasiswa di semua tempat yang rela meninggalkan bangku kuliahnya.
Berdiri di atas terik matahari menyuarakan apa yang selama ini jadi keluhan
rakyat; Berkorban menerima siraman water cannon yang rasanya perih dan baunya
tak karuan; Berani mengatakan apa yang selama ini jadi keluhan dan pandangan
rakyat kecil di mana-mana; Bertaruh badan untuk dipukuli, ditendangi, hingga di
penjara untuk nilai kemanusiaan yang ada di akal budi.
Terima
kasih mahasiswa, karena solidaritasnya yang luar bisa. Dari kampus mana-mana,
kalian menyatakan apa yang jadi keresahan rakyat selama ini. Rakyat miskin yang
akan dikriminalisasi oleh RUU KUHP maupun mengecilnya wewenang KPK oleh UU KPK
yang baru. Kemarahan mahasiswa pada anggota Parlemen hari ini sama dengan
kejengkelan rakyat karena kinerjanya. Menyusun UU dengan cara diam-diam serta
menyetujuinya dalam waktu singkat. Itulah perbuatan durjana yang tak bisa
dibiarkan begitu saja.
Terima
kasih mahasiswa, karena telah membawa bukti yang langka. Nurani bangsa yang tak
mudah dibunuh oleh uang dan jabatan. Nilai kemanusiaan yang tak bisa dihabisi
oleh tekanan dan sanksi. Ibarat pasukan mahasiswa telah mempertebal keyakinan masyarakat
kalau kebenaran itu tak bisa dipelihara dengan kompromi apalagi lobby.
Sebagaimana yang terlihat selama ini dan dipentaskan dengan luar biasa oleh
senayan dan istana.
Terima
kasih mahasiswa, karena telah memberitahu apa arti menjadi terpelajar. Seorang
yang adil sejak dalam pikiran dan tindakan. Nyaris semua menduga dulu kerja
mahasiswa hanya kuliah dan pulang saja. Sebagaimana tugas wakil rakyat kita
yang hanya rapat dan janji melulu. Kini semua orang tahu bahwa kuliah itu bukan
mengantar jadi sarjana, tapi juga melawan apa yang tak sesuai dengan logika dan
etika.
Terima
kasih mahasiswa, karena telah memperjuangkan apa yang selama ini hanya mampu
dinyatakan dalam bentuk tulisan. Melalui mahasiswa keresahan itu mencuat dalam
gelombang massa yang terbit dari berbagai kota. Hanya mahasiswa yang berani
menegur wakil rakyatnya, kemudian mengepung kantornya, lalu mengingatkan akan
tugas mulianya. Tanpa demonstrasi mahasiwa, wakil rakyat bisa dengan mudah
mengetok semua RUU yang isinya malah berbahaya.
Terima
kasih mahasiswa, karena telah mengembalikan kampus pada tugas pokoknya. Bukan
untuk melahirkan sarjana atau membuat acara wisuda, tapi mengukuhkan peran
kritisnya. Tidak hanya diisi oleh training wirausaha, tapi demonstrasi yang
membuat anak muda jadi pemberani. Walaupun Rektor ada yang melarang aksi, tapi
lebih banyak yang percaya kalau aksi itu bisa membawa perubahan pada apa saja.
Kalian membuat kuliah tidak pada tujuan meraih IP yang tinggi, melainkan
pengalaman untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang bobotnya lebih dari
IP tinggi.
Andai
mahasiswa diam saja, pasti komentar istana tak ada yang membalasnya. Bayangkan
seorang pemuka istana bilang KPK hambat investasi, hingga kalau mencari
pimpinan KPK yang ideal lebih baik cari di surga saja. Mulutnya itu seperti
belum pernah kenal aksara dan buku. Otaknya seperti diracuni oleh virus Orba
yang memang pernah jadi tuannya. Pernyataanya itu tak pantas keluar dari mulut
pejabat tinggi negara. Beruntung mahasiswa bergerak dari banyak kota sehingga
mampu membungkam mulut-mulut yang komentar sekenanya.
Jika
mahasiswa tak bergerak akan muncul pendukung revisi KPK yang tak jelas
asal-muasalnya. Kaum bayaran yang diberi upah untuk aksi yang sudah dipesan
lebih dulu. Mereka yang bersedia melakukan apa aja asalkan dibayar sesuai
dengan ketentuan. Hanya mahasiswa yang berani melawan tukang adu domba yang
kini mulai marak di media sosial mana saja. Kaum yang jadi pendukung rezim
sembari melempar fitnah ke sana ke mari, KPK dihuni Taliban hingga mahasiswa
hendak ganti pemerintahan. Melalui aksi mahasiswa kita semua tahu di mana
posisi kita selama ini, bersama mereka atau berada di sisi mahasiswa.
Andai
mahasiswa diam, pasti senayan akan begitu mudah meluncurkan paket UU yang
kandungannya bahaya. Terampil sekali mereka memotongi wewenang KPK bahkan
memilih pimpinan yang jelas-jelas melanggar norma. Tanpa malu, seorang anggota
parlemen bangga karena mengusulkan revisi UU KPK, bahkan tegas-tegas dirinya
mengutuk serikat pekerja KPK yang dikenal kritis dan bersih. Mau jadi apa
negeri ini kalau wakil rakyatnya bernafsu membasmi peran progresif KPK? Seolah
KPK itu petugas yang menganggu kerja para wakil rakyatnya sendiri.
Andai
mahasiswa tak bergerak sama sekali, niscaya partai politik merasa bangga.
Hampir semua kekuatan partai politik sepakat untuk hal apa aja, seperti
merevisi UU KPK, memilih pimpinan KPK yang bermasalah, hingga berani merumuskan
pasal yang kandungannya bahaya. Pasti partai politik yang kini menggurita
kekuasaannya akan merasa aman-aman saja kalau tidak ada kritik apalagi tekanan
mahasiswa untuk mengubah proyek legislasinya.
Terima
kasih mahasiswa, karena telah mengingatkan kami semua bahwa ada nilai yang
musti kita rawat bersama: keadilan, keberanian, dan keberpihakan. Biarkan
istana dan senayan tahu diri bahwa apapun keputusan mereka jika tanpa mendengar
usulan dan masukan rakyat pasti akan bawa petaka. Hari ini kami semua belajar,
negeri ini tak bisa dibangun hanya dengan ‘kerja, kerja, kerja,’ tapi juga
‘demo, demo, demo’.
Terbukti
demo-lah yang membuat istana dan senayan menunda RUU yang akan membawa petaka
bagi rakyatnya. Demo nyatanya masih mujarab dan punya kekuatan luar biasa dibanding
‘kerja, kerja, kerja’!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar