Oleh: Penikmat Malam
Aku adalah butiran pasir pantai yang terpijak dan menempel pada kakimu. Yang lenyap dalam sekejap ketika ombak datang menyapunya.
Dari balik batu-batu karang aku melihatmu termenung,
memejamkan mata seolah mencoba menghilangkan sesuatu dari pandangan. Tetapi
tetap saja bayangan itu menari pada pikiranmu. Tak dapat kau tepis.
Jingga senja perlahan tertelan gulita, dan kau masih
saja duduk di sana, di atas hamparan pasir pantai, tanpa peduli angin dingin
laut mengecupi pori-pori.
Kau terus saja menatap pada ombak yang berkejar-kejaran. Tetapi pikiranmu tak di sini, mengembara pada kenangan tentangnya; tentang mata wanita hujan yang pernah kau selami kedalamannya. Tentang mimpi-mimpi yang pernah kau rajut namun terkoyak takdir.
Kau terus saja menatap pada ombak yang berkejar-kejaran. Tetapi pikiranmu tak di sini, mengembara pada kenangan tentangnya; tentang mata wanita hujan yang pernah kau selami kedalamannya. Tentang mimpi-mimpi yang pernah kau rajut namun terkoyak takdir.
Ia adalah wanita hujan berdada api, kekuatannya mampu
melumpuhkan akal sehat, bahkan dihadapannya kau serupa tak berdaya, tak
memiliki wibawa sebagai pria dewasa. Kau kerap menjadi kekanak-kanakan bila
bersamanya, serupa anak kecil yang bermanja pada sang ibunda. Terkadang kau pun
menyerupa anak nakal yang menjengkelkan, hanya demi untuk menerima
omelan-omelan yang kerap kau rindukan, seperti masa kecilmu. Bersama wanita
tercinta dihidupmu; ibu.
***
Cerita tentangnya terputar jelas dalam memori otakmu. Kenangan saat kau memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan semua bersama luka dalam dada yang begitu parah. Kau pergi dengan ribuan duri menancap pada seonggok hati; terluka tetapi tak berdarah. Semua percakapan dengannya serupa menari pada retinamu.
Cerita tentangnya terputar jelas dalam memori otakmu. Kenangan saat kau memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan semua bersama luka dalam dada yang begitu parah. Kau pergi dengan ribuan duri menancap pada seonggok hati; terluka tetapi tak berdarah. Semua percakapan dengannya serupa menari pada retinamu.
"Mencintaimu itu serupa memeluk badai, Han,
sedikit saja goyah pertahanan, maka aku akan hancur!" ucapnya.
"Dan mencintaimu itu serupa meminta hujan kepada
api, Rhe. Hingga lelah tubuh ini berlutut mengiba, hanya keletihan yang mampu
menjawab," ucapmu.
"Bisakah kau tetap di sini, Han, untuk menjadi
sahabatku?" tanyanya.
"Kamu itu ternyata memang wanita dengan pecahan
ego tertinggi ya, Rhe! Kau memintaku jangan pergi tetapi ragamu miliknya! Bah
... kekonyolan macam apa yang ingin kau tawarkan?" jawabmu sinis.
"Aku memang egois!" tegasnya.
Kau terdiam sejenak, merenungi jalan hidup yang penuh
pecahan kaca lalu terpijak. Sakit.
"Kamu sahabatku, Han!" ucapnya lagi.
"Aku mencintaimu, Rhe! Dan kau faham akan hal
itu!" jawabmu sedikit emosi.
"Tetapi cintaku untuknya, Han!" ujarnya datar.
"Tetapi mengapa? Bukankah aku lebih dulu
hadir?" tanyamu kesal.
"Karena kamu orang kaya, kasta kita
berbeda," jawabnya, masih datar.
"Siapa yang menciptakan kasta itu? Hatimu, Rhe,
bukan aku. Sedikitpun aku tak pernah menilaimu berbeda! Bah ... tak masuk akal
alasanmu!" kau marah padanya.
"Tak perlu naif, Han, kita hidup di indonesia
yang kental akan budaya hindu budha," jawabnya tanpa ekspresi.
"Naif? Hahahaha," kau tertawa keras.
Ia menoleh kearahmu seraya mengangkat alis, tak
mengerti dengan sikap yang kau suguhkan, tentang tawamu yang tetiba saja
menggema.
"Rhee, manusia mana yang tak menjadi naif jika
sedang jatuh cinta? Bahkan aku kerap menjadi pria lugu yang dungu bila
berhadapan denganmu! Kau faham tentang pasal jatuh cinta bukan?" ucapmu
lagi.
Ia terdiam, entah apa yang sedang terpikirkan. Dia
satu-satunya wanita yang sangat sulit kau terka jalan pikirannya.
"Aku pamit, Rhe, dengarkan lagu itu jika kamu
rindukan aku," ujarmu setelah lama terdiam.
"Jika kau pergi tentu aku akan melupakanmu, Han,
aku tak perlu sesuatu yang hanya mengundang keperihan. Amnesia mungkin lebih
baik ketimbang merindu," jawabnya, lalu ia tersenyum sedangkan retina
melahirkan butiran mutiara di sudut matanya, lalu terjatuh membasuh pipi.
"Dasar wanita hujan pengumbar airmata, kau pikir
senjatamu itu ampuh tuk luluhkan hatiku ini? Konyol, cepat hapus!" ucapmu
nyinyir.
"Setidaknya aku tidak bersembunyi dibalik
senyuman, wahai Tuan berkepala batu, berwajah karang tetapi berhati hujan! Aku
tahu, kini pasti dada sebelah kirimu itu sudah banjir dengan airmata. Bah ...
bertopeng di hadapanku itu tak mudah!" sinisnya.
'Skakmat'
Kau tak mampu berkata apa-apa. Semua celotehnya adalah kebenaran. Senyatanya kau adalah laki-laki lemah yang bersembunyi dibalik karang.
Kau tak mampu berkata apa-apa. Semua celotehnya adalah kebenaran. Senyatanya kau adalah laki-laki lemah yang bersembunyi dibalik karang.
Kau menggenggam jemarinya, menatap retina penuh air
itu lalu menghapusnya dengan jemari. Kau menatap matanya, lalu berenang pada
kedalaman manik-manik hitam itu, rebahkan rasa yang entah di sebut apa.
****
Malam kian larut, dan kau beranjak meninggalkan
ombak-ombak. Tetapi pikiran masih kalut, semrawut, serupa benang kusut. Bayang
wanita hujan berdada api itu masih menggeliat dalam otak. Kau putuskan mampir
di sebuah kafe, meneguk beberapa kopi berharap bisa melupakan segalanya. Tetapi
wanita hujan tak mau pergi, semakin jelas tercetak dalam memori.
Kau putus asa, lalu memesan beberapa cangkir kopi
lagi, kali ini langsung kau tenggak kopi itu. Hingga kau benar-benar puas.
Matamu memerah saga. Dan bayangnya malah kian nyata.
Kau menghabiskan beberapa cangkir lagi, hingga tubuhmu
tak mampu lagi menopang raga, dan kau terlupa kapan kau mulai memejamkan mata,
menuju mimpi, bertemu dengannya, wanita hujan berdada api.
Semarang, 12 desember 2017
#penikmat malam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar