Jumat, 04 Oktober 2019

CORETAN #2

Tentang Wanita Hujan
Oleh: Penikmat Malam

Aku adalah butiran pasir pantai yang terpijak dan menempel pada kakimu. Yang lenyap dalam sekejap ketika ombak datang menyapunya.
Dari balik batu-batu karang aku melihatmu termenung, memejamkan mata seolah mencoba menghilangkan sesuatu dari pandangan. Tetapi tetap saja bayangan itu menari pada pikiranmu. Tak dapat kau tepis.
Jingga senja perlahan tertelan gulita, dan kau masih saja duduk di sana, di atas hamparan pasir pantai, tanpa peduli angin dingin laut mengecupi pori-pori.
Kau terus saja menatap pada ombak yang berkejar-kejaran. Tetapi pikiranmu tak di sini,  mengembara pada kenangan tentangnya; tentang mata wanita hujan yang pernah kau selami kedalamannya. Tentang mimpi-mimpi yang pernah kau rajut namun terkoyak takdir.
Ia adalah wanita hujan berdada api, kekuatannya mampu melumpuhkan akal sehat, bahkan dihadapannya kau serupa tak berdaya, tak memiliki wibawa sebagai pria dewasa. Kau kerap menjadi kekanak-kanakan bila bersamanya, serupa anak kecil yang bermanja pada sang ibunda. Terkadang kau pun menyerupa anak nakal yang menjengkelkan, hanya demi untuk menerima omelan-omelan yang kerap kau rindukan, seperti masa kecilmu. Bersama wanita tercinta dihidupmu; ibu.
***
Cerita tentangnya terputar jelas dalam memori otakmu. Kenangan saat kau memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan semua bersama luka dalam dada yang begitu parah. Kau pergi dengan ribuan duri menancap pada seonggok hati; terluka tetapi tak berdarah. Semua percakapan dengannya serupa menari pada retinamu.
"Mencintaimu itu serupa memeluk badai, Han, sedikit saja goyah pertahanan, maka aku akan hancur!" ucapnya.
"Dan mencintaimu itu serupa meminta hujan kepada api, Rhe. Hingga lelah tubuh ini berlutut mengiba, hanya keletihan yang mampu menjawab," ucapmu.
"Bisakah kau tetap di sini, Han, untuk menjadi sahabatku?" tanyanya.
"Kamu itu ternyata memang wanita dengan pecahan ego tertinggi ya, Rhe! Kau memintaku jangan pergi tetapi ragamu miliknya! Bah ... kekonyolan macam apa yang ingin kau tawarkan?" jawabmu sinis.
"Aku memang egois!" tegasnya.
Kau terdiam sejenak, merenungi jalan hidup yang penuh pecahan kaca lalu terpijak. Sakit.
"Kamu sahabatku, Han!" ucapnya lagi.
"Aku mencintaimu, Rhe! Dan kau faham akan hal itu!" jawabmu sedikit emosi.
"Tetapi cintaku untuknya, Han!" ujarnya datar.
"Tetapi mengapa? Bukankah aku lebih dulu hadir?" tanyamu kesal.
"Karena kamu orang kaya, kasta kita berbeda," jawabnya, masih datar.
"Siapa yang menciptakan kasta itu? Hatimu, Rhe, bukan aku. Sedikitpun aku tak pernah menilaimu berbeda! Bah ... tak masuk akal alasanmu!" kau marah padanya.
"Tak perlu naif, Han, kita hidup di indonesia yang kental akan budaya hindu budha," jawabnya tanpa ekspresi.
"Naif? Hahahaha," kau tertawa keras.
Ia menoleh kearahmu seraya mengangkat alis, tak mengerti dengan sikap yang kau suguhkan, tentang tawamu yang tetiba saja menggema.
"Rhee, manusia mana yang tak menjadi naif jika sedang jatuh cinta? Bahkan aku kerap menjadi pria lugu yang dungu bila berhadapan denganmu! Kau faham tentang pasal jatuh cinta bukan?" ucapmu lagi.
Ia terdiam, entah apa yang sedang terpikirkan. Dia satu-satunya wanita yang sangat sulit kau terka jalan pikirannya.
"Aku pamit, Rhe, dengarkan lagu itu jika kamu rindukan aku," ujarmu setelah lama terdiam.
"Jika kau pergi tentu aku akan melupakanmu, Han, aku tak perlu sesuatu yang hanya mengundang keperihan. Amnesia mungkin lebih baik ketimbang merindu," jawabnya, lalu ia tersenyum sedangkan retina melahirkan butiran mutiara di sudut matanya, lalu terjatuh membasuh pipi.
"Dasar wanita hujan pengumbar airmata, kau pikir senjatamu itu ampuh tuk luluhkan hatiku ini? Konyol, cepat hapus!" ucapmu nyinyir.
"Setidaknya aku tidak bersembunyi dibalik senyuman, wahai Tuan berkepala batu, berwajah karang tetapi berhati hujan! Aku tahu, kini pasti dada sebelah kirimu itu sudah banjir dengan airmata. Bah ... bertopeng di hadapanku itu tak mudah!" sinisnya.
'Skakmat'
Kau tak mampu berkata apa-apa. Semua celotehnya adalah kebenaran. Senyatanya kau adalah laki-laki lemah yang bersembunyi dibalik karang.
Kau menggenggam jemarinya, menatap retina penuh air itu lalu menghapusnya dengan jemari. Kau menatap matanya, lalu berenang pada kedalaman manik-manik hitam itu, rebahkan rasa yang entah di sebut apa.
****
Malam kian larut, dan kau beranjak meninggalkan ombak-ombak. Tetapi pikiran masih kalut, semrawut, serupa benang kusut. Bayang wanita hujan berdada api itu masih menggeliat dalam otak. Kau putuskan mampir di sebuah kafe, meneguk beberapa kopi berharap bisa melupakan segalanya. Tetapi wanita hujan tak mau pergi, semakin jelas tercetak dalam memori. 
Kau putus asa, lalu memesan beberapa cangkir kopi lagi, kali ini langsung kau tenggak kopi itu. Hingga kau benar-benar puas. Matamu memerah saga. Dan bayangnya malah kian nyata.
Kau menghabiskan beberapa cangkir lagi, hingga tubuhmu tak mampu lagi menopang raga, dan kau terlupa kapan kau mulai memejamkan mata, menuju mimpi, bertemu dengannya, wanita hujan berdada api.

Semarang, 12 desember 2017
#penikmat malam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar